Kehidupan Remaja
Oleh : Fandu winata
“Serbu…!” Terdengar teriakan para pelajar memulai aksi tawuran di tengah cerahnya langit biru yang membentang luas. Berbagai senjata berbahaya ada di genggaman, mulai dari kayu, besi, bahkan pisau. Pemandangan ini tak asing lagi di kalangan para pelajar, terutama SMA, dan bukan hal yang dianggap tabu lagi. Tak kala mengingatkan kita pada masa reformasi. Tapi ini terjadi pada warga negara sendiri, alias anak bangsa. Di awali saling mengejek satu sama lain berujung dengan aksi anarki. Beberapa saat kemudian barulah terdengar bunyi sirinne mobil polisi, para pelajar langsung kabur terbirit birit mendengarnya. Polisi dengan sigap berhasil menangkap beberapa pelajar. Termasuklah Rino, anak pengusaha ternama di Jakarta yang duduk di kelas 3 SMA.
“Selamat siang pak, ini dari pihak kepolisian, anak bapak sekarang ada di kantor polisi, karena terlibat aksi tawuran…” demikian polisi mengawali percakapannya di telepon.
“Apa pak? Anak saya ada di kantor polisi..? Iya pak saya segera ke sana!” kaget papa Rino medengar telepon dari kepolisian.
Orang tuanya langsung menuju ke sel tahanan…
“PLAK!!!...” menempel cap merah lima jari di pipi kiri Rino yang putih.
“Apa-apaan kamu Rino, kamu sudah bikin malu papa dengan kelakuan kamu ini, nama papa akan tercoreng mempunyai anak berandalan seperti kamu !…” suara papa Rino yang bringas.
“Iya kamu itu mama papa sekolahkan bukan untuk jadi anak berandalan, tapi menjadi anak yang mempunyai etika moral dan berpendidikan…” mama Rino yang menyambung kata papanya. Rino hanya menunduk sambil memegang pipi kirinya yang masih terasa sakit.
“Cepat ambil tas kamu , kita pulang ..” suruh papanya yang masih kesal.
Keesokan pagi di sekolah Rino “teng,teng,teng…” Bel masuk telah berdenting. Para murid menuju ke kelasnya masing-masing. Di tengah pelajaran, tiba-tiba terdengar dari microphone guru…
“Rino dan teman-temannya terlibat tawuran kemarin, di panggil ke kantor kepala sekolah.
Saat tiba di kantor kepala sekolah.
“Rino, kamu di keluarkan dari sekolah, karena bapak sudah mengetahui tentang kejadian kemarin. Bukan kali ini saja kamu melakukan hal tersebut, melainkan sudah 3 kali kamu terlibat kasus ini, dan sudah tak ada toleransi lagi bagi kamu. Ini ada surat yang harus kamu kasih ke orang tua kamu..” pak kepala sekolah menjelaskan kepada Rino.
Tak terasa matahari telah berada di atas kepala, Rino ketakutan ketika teringat akan pulang ke rumah.
“Duh… bagaimana nih, kalau mama sih masih bisa di ajak bicara, lah ini sama papa, melihat matanya seperti melihat neraka saja. Apalagi dengar dia marah, rasanya gendang telinga ini mau pecah…” keluh Rino yang memasang wajah “madesu”.
Ia terus berjalan melewati trotoar kota yang akhirnya, berhenti di sebuah taman. Ia duduk di bangku panjang taman dengan pohon rindang diatasnya membuat teduh dan terasa sejuk. Di temani dengan angin lembut menepisnya. Makin lama mata Rino sayup perlahan dan kepalalanya mengangguk-angguk. Tidak sampai lima menit, ia sudah membaringkan diri yang masih memakai seragam putih dan biru muda dengan tasnya berwarna abu-abu kehitaman sebagai alas kepalanya. Awan putih di langit biru yang cerah sudah menjadi awan kelabu dengan garis jingga menyala.
Datanglah sahabat Rino sekaligus tetangganya Aga, tak sengaja lewat mengendarai motor automatic biru menghampirinya.
“Hei sob! ,ngapain loe tiduran disini?..”
Rino menggeserkan sedikit tanganya yang menutupi mata.
“Eh elu sob nganggu aja, gue stress tadi di sekolah.”
“Emang apaan yang buat loe jadi stress kayak gini?” cetus Aga.
“Gue di keluarkan dari sekolah, gara-gara gue sering ikut tawuran,” curhat Rino ke Aga.
“Makanya loe jangan ikut-ikutan, seperti gue nih, gak mau ikut-ikutan, nggak ada hasil dari tawuran dapat duit kagak, dapat babak belur iya...” Aga yang berlagak menjadi panutan ke Rino .
“Ah sok lu ga..! ” ejek Rino.
“Eh gimana gue anterin loe pulang, gue tadi habis di suruh nyokap ke super market ,”tawar Aga ke Rino.
“Sebenarnya gue masih takut nih ketemu nyokap dan bokap gue, dirumah…” khawatirnya.
“Oh come on men … Jangan jadi pengecut, cepat naik, kita pulang.”
“Iya deh” suara Rino pasrah.
Sesampai Rino dirumah “tap..tap” suara sepatu Rino yang mengendap-ngendap menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
“Darimana saja kamu Rino?” mamanya datang memergoki.
“Yah ketahuan deh, ehh anu ma Rino…, (sret)…” tiba-tiba kertas dari sekolah terjatuh dari kantong celana Rino. “ Aduh celaka !” Rino histeris
“Apa itu…?” mamanya membungkukkan badan mengambil kertas yang jatuh… “APA!.. kamu di keluarkan dari sekolah?!. Karena sudah tiga kali terlibat tawuran…. benar-benar kamu Rino..” Mama yang sedikit teriak.
“Jangan kasih tahu papa ya ma,… please…??” Rino memohon
“Tidak bisa!! Papamu harus tahu tentang hal ini ”bentak mama
“Papa pulang..” saat yang kebetulan papa Rino pulang
“Pa, anakmu di keluarkan dari sekolah, karena sudah tiga kali terlibat tawuran!” kadu mama.
“Plak…!” Kembali tamparan di lakukan papa ke pipi kanan Rino. “Kamu ini, sudah berapa kali kamu membuat kesal papa!. Sekarang kamu di keluarkan, apa kamu sudah tidak punya masa depan! Semua permintaan kamu papa turutin, kurang apa lagi kamu, bikin papa malu saja!”. Marah papanya
Mata Rino langsung berubah menjadi merah dan berkaca-kaca, ia hanya berusaha tegar sebagai seorang pria yang tak cengeng. Ia berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Saat Rino ingin mengambil minum ke dapur terdengar percakapan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
“Ma, bagaimana kalau kita menitipkan Rino sampai dia tamat ke tempat pak Diman, sahabat papa dulu yang ada di kampung, supaya dia di sana bisa berubah kelakuannya”.
“Terus terang pa, mama agak keberatan kalau Rino tinggal di kampung”.
“Tapi ini untuk kebaikan anak kita juga ma ” pujuk papa.
“Ya, sudah terserah papa saja”.
Mendengar hal tersebut Rino langsung menghampiri mama papanya.
“Aku nggak mau pa, ma !”
“kamu di sana akan mengerti arti hidup sesungguhnya, dimana semuanya itu tidak kamu dapat secara instan, tapi perlu perjuangan dan pengorbanan, besok pagi kamu akan papa antar ke rumah pak Diman, setuju nggak setuju kamu harus nurut kata papa kali ini”. Jawab papa disertai dengan nasehat.
Hati rino yang terasa sangat panas di tambah kepalanya yang pusing memikirkan banyak hal, malam itu juga Rino berkemas. “Owh men… hidup di kampung yang bener aja, gak ke bayang gue ” gumam Rino kesal. Perlahan dia melihat sekeliling kamar nya di lengkapi dengan AC dan membayangkan tempat di kampung nanti. Seusai berkemas ia pun terlelap di kasur empuk beralas sprei warna biru dengan motif garis-garis putih miliknya.
“Tininit..tininit..” jam weker Rino berbunyi nyaring saat cahaya mentari memasuki kamar Rino yang gelap lewat jendela.
“hoaam~ ~ …” nguap Rino.
Ia langsung masuk ke kamar mandi dan segera bersiap. Rino tak lupa mengirim sms tentang dia pindah ke kampung sampai tamat SMA ke sobat nya Aga.
“Tin..” klakson mobil papa,
“iya pa, sebentar”. sahut Rino.
“Ma Rino pergi dulu..” pamit Rino dengan mama.
“Iya Rino, jaga diri kamu baik-baik ya…” ucap mama sambil mengelus pipi Rino.
“Bye mam ..” ia melambaikan tangan perpisahan ke mama.
Gedung-gedung tinggi yang menjulang, biasa menghiasi kota, sudah tak terlihat lagi di sisi kiri dan kanan. Terlihat hanya hamparan pohon hijau, mentupi sedikit panorama gunung di belakangnya. Sesekali terlihat persawahan yang di airi dari sisi kirinya terlihat sebuah gubuk kecil sederhana tempat istirahat para petani. Perjalanan yang menempuh waktu selama 5 jam membuat Rino terlelap di dalam mobil.
Empat jam telah berlalu dengan singkat, “gleduuk…!” ban mobil menyentak ke lubang, kepala Rino terantuk ke kaca membuat ia terbangun. “Sudah sampai pa ?” Tanya Rino sambil mengusal kepalanya yang terantuk. “Belum Rino, masih satu jam lagi ”. Semakin dekat, lubang menjadi bertambah banyak. Tak lama setelah itu terlihat permukiman penduduk . Di sanalah pak Diman dan keluarganya tinggal.
Papa Rino memandang ke rumah pak Diman. “Kita sudah sampai Rino.”
“hah ? nggak salah nih pa, rumahnya kecil gini, kumuh lagi” cetus Rino.
“Udah cepat turun, sapa pak Diman kamu jangan bersikap tidak sopan sama dia.”
“Halo man lama nggak jumpa …” papa Rino menyapa dan mengulurkan tanganya ke pak Diman.
“Oh Prabu, lama tak jumpa …” pak Diman bersalaman hangat sama papa.
“ Ini man, kalau boleh saya mau menitipkan Rino, putra saya. Dia saya suruh sekolah disini sampai lulus SMAnya, agar dia tahu gimana susahnya saya sewaktu hidup di kampung ini yang tidak semuanya bisa terpenuhi seperti di kota, mana tahu dari kesederhanaan dia dapat memperbaiki kelakuan dan moralnya, soalnya dia sering terpengaruhi oleh temanya di kota untuk ikut tawuran.”
Pak diman hanya mengangguk saja.
“Sapa pak diman, Rino..!” bisik papanya.
“Oh, hai pak ..” menyapa pak Diman dengan senyum datar.
“Yah sudah kalau begitu saya permisi dulu man, saya langsung pulang saja, jaga dirimu ya Rino” pamit papa Rino.
“Oh iya-iya Prabu” ucap pak Diman. Papa Rino langsung masuk ke mobil dan pergi meninggalkan mereka.
“Mari nak Rino masuk, yah inilah rumah bapak yang sederhana” sambil melangkah kedalam rumah.
“Oh nggak apa-apa pak” basa-basi Rino. Rino masih celingak-celinguk melihat sekitarnya. Pak Diman menunjukkan kamar Rino,
“Nah ini kamar nak Rino, kamar ini dulunya kamar putra saya yang pertama, sekarang ia menjadi TKI di luar negeri” cerita pak Diman. Kamar ini berisi ranjang yang sudah tua dan mulai rapuh di makan rayap, terletak sebuah jendela yang menghapad ke timur.
“Pak kalau kamar mandinya di mana?” tanya Rino
“oh ada di belakang tapi airnya harus nimbah dulu dari sumur nak Rino” .
“Buset … nimba ?.. Gila aja mau mandi aja repot bener , biasa mandi pake shower , tinggal putar keran langsung ada airnya ” pikir Rino .
Rino hanya bisa menelan air ludahnya sambil memperhatikan sekeliling, terlihat banyak sawang-sawang di dekat lampu kamarnya .
“Idih, kalau nimba gini terus lama selesai nya gue mandi, duh… sulitnya tinggal di perkampungan ….” Oceh Rino yang ingin mandi.
“Kak udah belum, saya mau mandi ” terdengar suara anak pak Diman yang bernama Toto berusia sebelas tahun di depan pintu kamar mandi.
“Bentar .., mandi aja juga belum” jawab Rino.
“Iya udah, kalau sudah selesai, di panggil sama bapak dan ibu makan malam.” ucap Toto.
“Iya ..iya ” dengan suara Rino yang malas .
Bola api yang tadinya menerangi dunia diganti dengan bola lampu yang menerangi rumah-rumah warga. Waktunya untuk keluarga pak Diman makan malam dengan lauk telur dadar, ikan asin, di sertai sambal tempe seadanya. Rino yang duduk bersila beralaskan tikar terkejut ketika melihat lauk di hadapannya.
“Apa-apaan ini kok gini sih jadi gak nafsu makan gue, ngelihat masakan neraka gini, biasa makan ayam, steak, soup, salad dll buatan mama atau nggak tinggal telephone aja ke restaurant” gerutuh dalam hatinya.
Tapi, “grrr..~~” suara perut Rino yang tak bisa menipu lagi, kalau ia sudah lapar benar.
“Haha, sudah makan saja apa adanya nak Rino, ini lah yang sering kami makan” pak Diman ketawa kecil mengetahui selera Rino yang elit.
Sesuap demi sesuap nasi beserta lauknya masuk kemulut Rino, ada rasa khas yang lain dari masakan ibu Syifah istri pak Diman ini di lidah.
“hmm… Enak juga masakan kampung ini, meskipun bentuknya tak menyelerakan, tapi rasanya tak kalah saing sama masakan restaurant di kota..” komentar Rino dalam hatinya.
Selesai makan ia pergi ke kamarnya dan duduk depan jendela. Menatapi jutaan bintang di langit. Tiba-tiba dia melihat ke arah jendela rumah di depannya terbuka, melihat seorang gadis putih mulus, berambut panjang yang tergerai indah sedang membaca buku dengan anggunya. Setiap ia membalikkan lembar buku satu demi satu, di lakukan dengan lemah gemulai. Rino jatuh cinta kepada gadis di depan matanya, seakan panah cupid langsung menancap erat di hati Rino.
“Baru kali ini gue melihat cewek secantik dan seanggun dia.” kata Rino yang terus memandangnya. Gadis itu sadar bahwa dia sedang di perhatikan merasa ketidak nyamanan lalu menutupi jendela kamarnya.
“daaar…!!!” kejut Toto yang diam-diam masuk menghancurkan konsentrasi Rino saat itu.
“ Ahh elu to’ nganggu aja lu…” ucap Rino terkejut.
“Hayoo, lagi ngapain ngelihat kak melati sampai termenung, naksir ya” ejek Toto . “Ah lu masih kecil udah tahu naksir-naksiran, jadi nama cewek itu melati to?”
“ Cieee mukanya sampai merah seperti tomat aja nih kak Rino ….hahaha, iya dia anak ibu Rohima dan Pak Dadang” goda Toto.
“Ah gih tidur sana masih kecil juga …”
“Iya-iya yang lagi kasmaran nieee…” goda Toto sekali lagi sambil meninggalkan kamar Rino.
“kukuruyu…!” jam weker alami di kampung membangunkan Rino beserta keluarga pak Diman.
“Nak Rino nanti sehabis mandi kita siap-siap ke SMA yang tak jauh jaraknya dari sini untuk mengajukan pendaftaran murid.
“Iya pak …” Rino yang sedang mengucek kedua matanya. Sarapan pagi semulanya roti isi mama, diganti dengan singkong goreng buatan ibu Syifah. Meskipun tak seenak sarapan mamanya, tapi ini dapat mengenyangkan perut Rino.
Sesampai di SMA, pak Diman dan Rino langsung ke kantor kepala sekolah, Rino di perbolehkan ikut belajar bersama yang lain. Tak di sangka ternyata Melati juga sekolah di sana. Mata Rino kembali terpaku melihat Melati. Ketika Melati menoleh melihat Rino, Rino seakan pura-pura tidak memperhatikan Melati.
“Rino, ayo bapak temani kamu ke kelas baru kamu di 3A, mari …” ajak pak guru. Rino hanya menganggukkan kepalanya.
Sampailah di depan pintu kelas “Anak-anak, kita kedatangan murid baru dari kota yang akan belajar disini, ayo masuk Rino, perkenalkan dirimu” ucap pak guru.
“ Perkenalkan nama gue Rino Chandra Winata, umur gue tujuh belas tahun , gue tinggal bersama keluarga pak Diman. Salam kenal!.”
Para murid tidak ada yang banyak tanya dan lagi-lagi Rino bertemu Melati “Wah sudah tiga kali gue ketemu, mungkin sudah jodoh kali, semoga gue duduk di belakangnya… ” harap Rino dengan senyum sebelah.
“ Hmmm… hah di belakang melati ada bangku kosong kamu duduk di situ saja. ” ujar pak guru.
“Yes .. tepat! ” pikir Rino tepat.
Melati adalah gadis pintar berprestasi namun pendiam. Saat bell istirahat berbunyi Melati tidak jajan ke kantin seperti yang lain, melainkan ia pergi ke perpustakaan yang ada di sekolah. Meskipun perpustakaan di sekolah tidak begitu besar, tapi dia tetap senang dengan buku-buku di sana. “Buku adalah sahabatku” itulah yang di tanam dalam diri Melati. Tanpa buku tidak ada seorang pun yang bisa pintar. Beda sekali sama Rino, yang sangat memusuhi buku, dan pemalas. Rino terus mengikuti Melati kemanapun ia pergi. Melati berbelok diujung lorong. Dia berhenti ketika menyadari Rino juga ikut berbelok. Dia memandang Rino itu dengan ekspresi heran.
“Nggak bosan ngikutin saya? Saya mau ke toilet.. mau ikutan juga?”
“Nggak kok gue mau ke kelas ..” mendahului langkah Melati.
Rino semakin penasaran dan jatuh cinta kepada Melati. Ketika pelajaran di mulai ia membuat serangkaian puisi cinta untuk menembak Melati. Selesai membuat, Rino melipat kertas itu mnejadi pesawat kertas dan menerbangkanya ke depan. Tapi sayang, pesawat itu meleset, malah Pesawat itu nyangkut di atas rambut cewek di samping Melati yaitu Desi yang berbadan bonsor berambut kribo, ketika ia meraba rambutnya. “Apa ini” Desi penasaraan lalu membuka dan membaca isi surat itu.
“Kau membuat hidup ku jadi gila karna mu… Setiap ku menatap ke langit-langit kamar, bayangan wajahmu selalu ada. Aku tak bisa berhenti memikirkan mu. Ketika aku melihat bunga Melati, sangat mencerminkan kepribadianmu yang sederhana terlihat dari warnanya putih yang tidak mencolok, engkau netral diantara bunga yang lain, Meskipun engkau kecil dimata, tapi wangimu sangat besar di penciuman begitu juga di hatiku kau sangat istimewa. Maukah engkau mengisi kekosongan hatiku? by:Rino ”
Semua murid tertawa dengan sorak riuh mengejek Rino dan Melati. “hahahahahaha… hari gini masih pake puisi, capek deh….” mereka tertawa lebar mengejek Rino. Rino sangat malu ia menutupi wajahnya dengan tas, sedangkan Melati tidak melapaskan pandanganya dari buku.
Gelapnya malam menyelimuti hari, terdengar lolongan anjing yang nyaring saat bulan purnama. Melati yang habis pulang di suruh ibunya ke warung membeli telur. Terlihat dua orang preman setengah mabuk di jalan yang sepi. Ia menundukkan wajahnya dan nekad menerobos preman itu. Sayangnya, Melati dihadang kedua preman dan meminta uang yang ada di dompetnya.
Ia berteriak keras “tolong….!”. Melati terjatuh ke semak.
Saat kedua preman itu mendekati Melati, tiba-tiba. . . ,
“Woi preman kampungan, jauhkan gadis itu …!” teriak Rino seperti pahlawan superhero yang muncul tiba-tiba. Tak disadar, preman yang satunya menyekap Rino dari belakang.
“Banyak bacod kamu, hyaaat…” preman yang satunya lagi menghantam kepala Rino dari depan dengan kayu balok. Kaki tangan Melati gemetaran melihat kepala Rino berlumuran darah.
“Tolooong…” kembali ia meminta bantuan warga dengan suara yang gemetar ,menangis ketakutan terlihat dari wajah nya.
Pak RT tak lama kemudian tidak sengaja lewat di depanya langsung mengambil dan memukul kentungan untuk meminta tolong kepada warga. Barulah warga keluar dan datang di mana kentungan itu di bunyikan. Kedua preman itu kabur dengan cepat seketika warga berdatangan. Mata Rino berkunang kunang dan jatuh pingsan.
Rino membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali membiarkan cahaya yang masuk membuat matanya terbiasa.
“Aaaw..” Rintihnya ketika bergerak bangkit. Kepalanya terasa pusing.
“Nak Rino .. kamu udah sadar?” tanya Pak Diman khawatir.
Rino memandang pak Diman, “Pak, ini dimana?”.
“Kamu lupa? Tadi malam kepala kamu di hantam oleh preman. Kamu lumayan banyak mengeluarkan darah. Kepala kamu dijahit 9 jahitan. Ucap pak Diman menjelaskan.
Rino mengingat-ingat kejadian tadi malam. Dia mengelus dahinya dan menemukan sebuah perban yang terasa nyeri kalau disentuh. Dia teringat Melati, apakah kemarin dia juga mengalami hal yang sama. “Melati dimana?”
“Dia ada di luar kalau mau ketemu bapak akan panggilkan” ucap pak Diman. Rino mengangguk.
“permisi?..., Rino, maafkan aku ya , gara-gara aku ,kamu jadi gini ”ucap Melati merasa bersalah.
“Ah nggak, santai aja lagi , sebagai seorang cowok gue emang harus ngelindungi cewek, apalagi cewek nya seperti loe mel …” usaha Rino merayu Melati.
Melati tersipu malu, pak Diman keluar meninggalkan mereka.
“Melati, maukah loe jadi pacar gue…”menantikan jawaban Melati.
“hmmm bagaimana ya ,boleh deh, tapi ada syaratnya..”
“Apaan? gue akan lakuin apapun demi loe…Mel” meyakinkan si gadis pujaan hati.
“kamu harus bisa masuk sepuluh besar dalam UN yang sebentar lagi…”Syarat dari Melati
“Nggak ada yang lain, mel ? ”ragu Rino
“Tadi katanya mau ngelakuin apa saja …?” mengulangi kata Rino
“Eh ini mah beda .., loe tahukan kalau gue ini nggak pintar ?”
“Inikan untuk kebaikan kamu juga, aku juga ingin melihat keseriusan kamu, aku tidak mau mempunyai pacar yang tidak serius, aku bukan cewek gampangan, yang bisa di dapati dengan mudah…! ” jelas Melati.
“Oke lah kalau begitu, gue berjanji akan serius belajar, tapi…maukan loe jadi guru private gue mel, karena gue nggak tahu apa-apa ” pinta Rino ke Melati
“Baiklah …” sambil tersenyum manis memandangnya.
Dua hari telah berlalu, dokter memperbolehkan Rino pulang. Tak lupa akan janjinya kepada Melati. Ia mengambil tas dan buku lalu pergi kerumah Melati dengan perban yang masih menempel di dahinya.
“Mel...” panggil Rino di depan pintu. Melati membuka pintu perlahan
“Eh.. Rino, kamu sudah sembuh?” tanya Melati.
“Sudah dong, gue gak sabar bertemu dengan cewek gue yang cantik ini” ujar Rino.
“Ah bias saja kamu. Hmm... kita belajar di teras saja ya, orang tuaku sedang tidak ada di dalam”ucap Melati.
“Nggak papah deh, asal ada loe, dimanapun jadi.” Sedikit kecewa dari hati Rino.
Mereka berdua mulai belajar, duduk di atas kursi teras dengan meja kecil memisahnya. Melati pertama menjelaskan mata pelajaran MTK. Rino bukanya terpaku dengan pelajaran yang di jelaskan Melati, namun memandang Melati dengan senyuman, terus dan terus terlihat dalam imajinasi seperti ada efek love kecil bergerak tak berirama dari mata Rino tertuju ke mata Melati yang sedikit sipit dengan bulu matanya yang lentik. Melati sadar akan hal itu lalu ia menegurnya,
“halooo…” Rino kaget seketika .
“kamu lagi mikir apa ..?” tanya Melati.
“nggak, loe gue perhatiin dari dekat ternyata lebih cantik” rayu Rino.
“ahh kamu ini membuat aku jadi malu. Ayo fokus ke pelajaran” Melati tersipu malu mendengarnya. Tiga mata pelajaran dalam sehari sudah di jelaskan Melati dengan mudah di mengerti oleh Rino.
“Mel ntar malamkan malam minggu, mau nggak loe jalan sama gue, kita makan sekalian jalan-jalan?” ajak Rino.
“Hmm boleh ..”jawab Melati.
“Yes.. ntar gue jemput loe” girang Rino.
Bulan mulai menunjukkan rupanya di langit senja. Rino menjeput Melati menggunakan motor vespa tua milik pak Diman. Dengan sabar ia menunggu Melati di depan rumahnya. Melati baru pertama kali di ajak kencan sama cowok, ia berdandan dengan cantik layaknya perempuan yang sedang kasmaran. “nget”suara pintu terdengar. Terlihat bidadari cantik baru turun dari kayangan. “Waw… loe cantik banget mel...” puji Rino.
Melati hanya tersenyum menunduk ke bawah.
Rino mengajak Melati makan di sekitar tepi sungai terdapat penjual makanan kaki lima.
“Loe mau makan apa mel ? ”.
“ Kita makan bakso dan minumnya kelapa muda saja ya?”.
“Ya udah, gue setuju.”
Mereka menikmati sekali makananya, apalagi pemandanganya di tepi sungai. Seusai makan mereka jalan-jalan mengelilingi kampung.
Malam telah larut, saatnya bagi setiap insan memberhentikan segala aktivitasnya. Begitu juga bagi kedua remaja yang kasmaran ini untuk pulang.
“daa mel…!” ucap Rino.
“daa Rino” Melati menjawabnya dengan senyum bahagia.
“Hari ini nggak akan gue lupain senpanjang hidup gue…” pikir Rino yang terbaring di ranjang.
Hari demi hari telah berlalu, saatnya hal yang di takuti tiba. Ujian nasional yang menentukan lulus tidak lulusnya bagi mahasiswa dan mahasiswi. Rino mendapat kecemasan di dalam dirinya.
“Duuh gimana ya kalau gue, nggak bisa ngerjain soal-soalnya nanti..” ucap Rino.
“Tenang saja Rino kamukan sudah giat belajar selama sebulanan ini sama aku” datang Melati memberi semangat ke Rino.
“Iya mel, thanks ya” balas Rino yang sudah sedikit tenang.
Soal-soal diisi dengan mudah bagi Melati dan Rino.
Hari penentuan pun tiba, seluruh mahasiswa-mahasiswi memadati papan pengumuman. Melati dan Rino ikut memadati dan melihat nama mereka di urutan keberapa mereka. Ternyata Melati di urutan yang pertama sedangkan Rino di urutan yang kedua. mereka keluar dari kerumunan banyak mahasiswa. Melati dan Rino berpelukan senang melihat nama mereka menempati urutan pertama dan kedua. “Akhinya gue bisa nepati janji gue ke loe mel..”ucap Rino yang senang.
“Iya, bahkan lebih baik dari apa yang aku bayangi Rino …” Senang dan tangis penuh di sekolah. “Tapi mel, gue akan berangkat ke Jakarta kalau gue sudah lulus SMA.” Perasaan yang semulanya senang berganti dengan perasaan kecewa di hati Rino dan Melati. Rino pun pulang dan berkemas menunggu papanya menjemput.
Terlihat kepala sekolah beserta kepala desa datang ke rumah Melati. Rupanya Melati diberitahukan mendapat nilai tertinggi se-provinsi. Ia mendapat beasiswa melanjutkan kuliah S1 di Jakarta. Betapa senangya Melati. Tepat di waktu hari kepulangan Rino ke JAKARTA.
“Rino…. Rino …..” pekik Melati.
“Ada apa mel ?” Rino berlari keluar.
“Aku mendapat beasiswa kuliah S1 di Jakarta.” perasaan senang merubah suasana.
“Berarti loe, gue…” Rino yang kaget “Akan bersama di Jakarta…” sambung Melati.
“ Yeah… wuh!... kita akan bersama-sama lagi” teriak Rino gembira .
sillahkan bagi yang maw mempostingkan cerpennya di blog ini ... thankS.....
Asal jangan melanggar hak cipta ... Ok friends ...!!!!

2 komentar:
fandu buat sendiri ya ?
iya iya lah ....
Posting Komentar